Hong Kong adalah salah satu dari dua daerah administratif khusus dari negara Republik Rakyat Tiongkok. Dan penulisan yang benar adalah dipisah, bukan "Hongkong" melainkan "Hong Kong". Hal ini baru gw sadari begitu sudah sampai di sana. Penulisan alamat di berbagai tempat selalu menunjukkan bahwa penulisannya terpisah. Meskipun banyak sekali artikel di internet yang salah ejaannya.
Banyak hal yang bisa kamu cari di internet sebelum pergi ke Hong Kong. Mulai dari tempat wisata terkenal, rute MTR (yang sama seperti MRT di Singapura), peta Hong Kong, bahkan hingga itinery traveling di Hong Kong. Hal-hal ini bisa menjadi masukan agar kamu yang pergi kesana tidak lagi kesusahan dengan orang-orang Tiongkok yang –katanya- tidak mahir berbahasa Inggris.
Oke, hal ini akan menjadi hal pertama yang saya bahas. Selama 3 hari 4 malam perjalanan saya disana, bahasa sama sekali tidak menjadi masalah. Di berbagai tempat sudah banyak orang yang bisa saya ajak bicara dengan bahasa Inggris. Bukan hanya di tempat informasi turis, bahkan di lapak toko tengah malam Ladies Market kamu bisa menawar harga barang-barang dengan berbahasa Inggris kepada penjualnya. Mungkin karena semakin banyak wisatawan yang datang maka mereka semakin memperhatikan kemudahan transaksi jual beli. Maka kamu tidak perlu lagi tawar-menawar harga suvenir dengan menggunakan kalkulator, cara itu sudah usang.
Proses jual beli pun tidak seperti yang saya baca di beberapa ulasang orang di blog pribadi mereka. Menawar setengah harga di Ladies Market sudah dianggap keterlaluan. Selama saya di sana, tidak banyak barang yang bisa saya tawar setengah harga. Beberapa lapak toko tas bahkan langsung menolak menjual barang seperti harga yang saya tawar. Karena tidak banyak lapak yang saya masuki, kesimpulan saya hanya beberapa macam barang yang bisa ditawar serendah mungkin. Jangan langsung main tawar setengah harga. Baiknya kamu ubah dulu kurs harga dari $ Hong Kong ke rupiah, baru tawar ke harga yang menurut kamu layak dalam rupiah yang kemudian kamu kurs kan kembali ke $ Hong Kong. Dengan begitu kamu tidak akan dihardik kasar oleh penjual-penjual di sana. Catatan lainnya apabila kamu ingin berbelanja di Ladies Market adalah jangan sembarang bertanya harga barang yang tidak niat kamu beli. Ini berulang kali terjadi pada saya dan teman-teman. Sekali kamu bertanya harga barang maka penjual akan sangat agresif meminta kamu menawar harga hingga terjadi kesepakatan jual beli. Bahkan ada penjual yang sampai menarik-narik tangan meminta kamu membeli di lapaknya karena kamu sudah terlanjur bertanya harga. Tidak mau itu terjadi kan?
Kalau penduduk di sana saja sudah sangat sadar tempatnya menjadi tujuan wisata favorit, apalagi pemerintahnya. Di stasiun MTR ada petugas berseragam yang berbaik hati memberikan petunjuk transportasi atau rute apabila kita terlihat kebingungan membaca peta. Dan di setiap stasiun MTR terdapat papan peta wilayah, jadi kamu tidak akan kesulitan mencari informasi transportasi atau rute perjalanan kamu. Tapi sebagai persiapan, baiknya sih kamu membawa 1 peta Hong Kong yang bisa diambil di bandara sebagai cadangan. Siapa tahu tiba-tiba kamu tersasar di tempat yang jauh dari stasiun MTR. Seperti hal yang terjadi pada saya. Kesulitan mencari MTR dari The Peak di Hong Kong Island menuju pelabuhan untuk naik ferry menuju Tsim Sha Tsui. Ferry yang khusus menuju Tsim Sha Tsui berada di Pier no.7. Hingga akhirnya kami terpaksa berjalan kaki dengan petunjuk rute hanya dari sebuah peta yang kami ambil di bandara. Sampai di pelabuhan Hong kong Island kami menggunakan ferry menuju pelabuhan di Tsim Sha Tsui, di pelabuhan itu kami dapat menyaksikan pertunjukan Symphony of Light yang terkenal.
Kalau mau mengikuti itinery saya, dari The Peak kemudian menyaksikan Symphony Of Light, perhatikan jam-jam keberangkatan ferry dan jam mulai pertunjukannya ya.
Jangan takut kalau di perjalanan panjang kalian tiba-tiba ingin buang air. Kebanyakan WC disini bersih kok, tidak seperti yang saya baca di tulisan orang lain. Ada tulisan yang bilang bahkan WC di disneyland sangat kotor, diapers berserakan dimana-mana. Itu tidak benar! Saya mampir ke WC di berbagai tempat wisata, mulai dari Ocean park, Disneyland, The Peak, Madam Tussaud, semuanya cukup bersih, namun ya tetap harus menyiapkan tissue basah.
Perjalanan berakhir di bandara internasional Hong Kong (Hong Kong International Airport). Bandara yang termasuk 4 besar bandara terbaik di dunia ini sangat besar. Sangat Besar! Terdiri dari 2 terminal utama yang dihubungkan oleh MTR dan terdapat banyak toko suvenir di dalamnya termasuk toko suvenir Disneyland. Saking besarnya di perjalanan kemarin, saya nyaris terlambat boarding pesawat kembali ke Indonesia gara-gara tidak bersiap-siap mengantisipasi kemungkinan ini. Cerita yang tidak pernah saya dengar di blog manapun. Tersesat di bandara Hong Kong!
Dari penginapan menuju bandara saya menggunakan MTR. Di bandara MTR saya berhenti di terminal 2, yang kebetulan merupakan terminal tempat check in maskapai yang saya gunakan. Terminal keberangkatan berada di terminal 1, oleh karena itu dari terminal 2 saya harus turun ke bawah menggunakan eskalator, kemudian sampai di gate MTR yang mengantar saya ke terminal 1. Di terminal 1, saya melalui konter imigrasi, kemudian mencari gate maskapai yang saya pakai. Dari gate di terminal 1 tersebut saya masih harus menggunakan shuttle bus menuju terminal keberangkatan. Baru masuk Shuttle bus, pesawat saya sudah last call. Total waktu dari Terminal 2 hingga ke gate keberangkatan maskapai: 30 menit dan saya terlambat 15 menit dari waktu boarding pesawat. Untung saja maskapai yang sekarang sudah tidak operasi di Indonesia itu berbaik hati menunggu saya. Jadi, siapkan waktu agak panjang di di Hong Kong International Airport kalau kamu mau kembali ke Indonesia ya, supaya bisa jalan-jalan dulu dan istirahat di tempat boarding pesawat.
