Sabtu, 01 Desember 2012
Mudik Yuk Ah! (bagian 2)
Well, karena perjalanan mudik a.k.a liburan ini udah kelewat lama jadi agak-agak lupa nih cerita lengkapnya. Jadi gw ceritain hanya yang super spesialnya deh buat kamu ;)
Hari H datang juga, kami sekeluarga menuju batam dengan pesawat Garuda. Perjalanan ini kami lakukan di hari H-2 lebaran, otomatis saat itu kami sedang berpuasa. Pesawat berangkat hampir jam 5 sore dan diperkirakan sampai di Batam jam 6 lebih. Karena sedang berpuasa, situasinya agak ngebingungin sih, soalnya sesuai standar pelayanan Garuda penumpang dikasih makan. Ya kalo penumpangnya ga puasa sih makanannya pasti langsung dimakan. Gw kan lagi puasa, kepaksa deh makanannya disimpen depan mata, sambil harap-harap cemas adzan maghrib cepet berkumandang. Nah.. masalahnya, beda waktu Bandung-Batam aja ga tau, apalagi posisi gw saat terbang persisnya dimana sama sekali ga kebayang, jadi bingung mutusin mau buka puasa di jam Bandung apa Batam. Udah lewat 15 menit dari jam buka puasanya Bandung, makanan yang dikasih tadi belum disentuh sama sekali padahal aromanya udah hampir bikin batal puasa gw. Bokap gw dengan penuh pertimbangan mengusulkan untuk buka puasa aja. Belum abis setengah porsinya, tiba-tiba dikasih pengumuman lewat pengeras suara bahwa saat itu belum waktunya buka, masih 10 menit lagi. Jiaaaahhh...
Sudahlah, Wallahualam puasa hari itu diterima apa nggak, kan ketidaktahuan waktu berbuka bukan hal yang disengaja, ya kan? kan?! iya kan ya?!
Bilang iya aja sih.. :p
Sampai di Batam hari udah gelap, sodara yang menjemput di bandara langsung membawa gw sekeluarga ke tempat tinggalnya.
Hari kedua di Batam dijadwalin khusus buat jalan-jalan. Pulau ini bisa dibilang pulau industri, belakangan ini banyak banget industri yang bikin pabrik disana. Tapi bukan berarti nggak punya tempat wisata yang kece. Salah satu objek wisata disana adalah jembatan Barelang. Sesuai namanya, obyek wisatanya berupa jembatan yang menghubungkan beberapa pulau di sekitar Batam. Nama pulau-pulau yang dihubungkan oleh jembatan itu kalo disingkat jadi Barelang, tapi sorry nih.. gw lupa pulau apa aja..hehe :p
Hari itu sempet hujan di perjalanan menuju jembatan Barelang, langit juga jadi agak mendung waktu gw foto-foto.
Pulau ini memang ga terlalu padat penduduk, makanya gw sempet foto di tengah jembatan Barelang, mumpung ga ada mobil yang lewat, hehe..
Kalau di Bandung, gw sih ngejek orang-orang yang foto di jembatan Pasupati..secara gw tinggal disana. Tapi di batam, foto di pinggir bahkan tengah jalan cuek aja. Hehehe..
Dari jembatan Barelang gw menuju pantai Costarina. Pantai yang sengaja dibikin bagus untuk menarik minat wisatawan. Bisa dibilang ini pantai paling bagus di Batam. Tapi karena Batam lebih terkenal sebagai tempat belanja murah, jadi pantai ini peminatnya sedikit dan kondisinya kurang terawat. Sayang banget.
Jadi di pantai ini tuh ada semacam panggung permanennya gitu, tapi cuma beberapa meter doang udah langsung bibir pantai. Makanya kadang dijadiin tempat buat ngadain pertemuan atau pertunjukan.
Selain itu ada juga wahana permainan. Tapi kebanyakan udah nggak buka lagi. tepat di pinggir pantai juga ada wahana bianglala sebutannya kalo di dufan mah, Singapore flyer kalo di Singapura mah.
Selesai nongkrong cantik di pantai Costarina, gw dan keluarga jalan-jalan ke pusat perbelanjaan elektronik murah di daerah Nagoya. Dari informasi sodara gw, di situ ada juga tempat makan seafood murah, berhubung udah waktunya buka puasa sekalian aja deh..nyobain tempat makan seafood murah yang juga terkenal sebagai tempat nongkrong anak muda Batam. Hi, I'm officially turis banget yah? Ihiy!!
Senin, 03 September 2012
Mudik Yuk Ah
Buat sebagian orang mudik adalah tradisi. Bukan lebaran kalo ga mudik. Mungkin ada juga orang yang menyepelekan, menganggap mudik sebagai suatu pemborosan. Gw punya pandangan sendiri, walaupun ujung-ujungnya keganggu dengan macet yang ditimbulkan tapi gw sih memaklumi mereka yang mudik.
Kenapa harus mudik sih? Karena lebaran kan momen yang tepat untuk silaturahim. Tapi kenapa harus pas lebaran? Kenapa ga di waktu yang lain? Yaa.. karena cuma di lebaran ini mereka yang kerja di kota dapet libur lebih panjang dari biasanya. Banyak kok perusahaan yang pelit sama jatah cuti. Lagian kalo di lingkungan kerja gw, justru momennya pas banget, pas pegawai pengen mudik, pas perusahaan perlu maintenance atau service mesin-mesinnya. Simbiosis Mutualisme.
Kan cuma setaun sekali, memangnya ga kangen sama orang tua atau saudara?
Buat gw yang keluarganya kecil, hidup merantau jauh dari keluarga besar, dan penghasilan yang ga besar-besar amat untuk bisa mudik tiap tahun sih, mudik adalah liburan.
Tahun ini, setelah gw dan kakak gw punya penghasilan sendiri, kami sekeluarga bisa pergi mudik. Officially ini adalah mudik sekeluarga kami yang pertama, setelah 17 tahun ga mudik ke kampung halaman nyokap gw pulau Dabo, Kepulauan Dabo Singkep, dan itu pun bukan ketika lebaran.
Sebuah perjalanan yang mulanya dari obolan santai, ga betul-betul serius. Keputusan untuk bener-bener mudik diambil hanya seminggu sebelum memasuki bulan ramadhan 1433 H. Dalam tiga hari tiket pesawat pulang-pergi udah di tangan. Pesawat Garuda Indonesia Airways. Yang anehnya, justru tiket pesawat kelas atas ini yang harganya paling murah dibanding maskapai lain.
Setelah tiket pesawat di tangan, tiap hari -literally- obrolan di meja makan seputar rencana keberangkatan dan cerita tradisi lebaran di sana. Bikin makin ga sabar, mudik lebaran gw untuk pertama kali.
Senin, 30 Juli 2012
Satu
Wina, rekan kerjaku, datang menghampiri dengan wajah berseri. Sebelum satu kata pun keluar dari mulutnya, aku sudah bisa menebak. Topik obrolan tidak akan jauh dari pria-pria di sekelilingnya.
Aku memberi sekilas senyum padanya, kemudian kembali menatap layar pc.
“Lagi ngapain?” Wina menyambar sebuah kursi di sebelahku dan ikutan memperhatikan layar pc ku.
“Ah biasa, si bos nyuruh benerin surat penawaran buat calon client pentingnya.”
“By the way, meeting besok sama client baru di cafĂ© belakang aja yuk?”
Aku meliriknya. Ini dia.. Wina akan mulai berceloteh tentang date entah dengan siapa dari keempat pria yang mendekatinya. Untuk aku, pertanyaan atau pernyataan seperti ini sungguh sangat menjebak. Jawaban berupa pertanyaan seperti “kenapa?” maupun jawaban mengiyakan akan memancing dia bercerita panjang lebar pengalamannya. Tidak ada jawaban yang dapat memberiku jalan keluar dari situasi menyebalkan ini.
Serba salah, tapi Wina menunggu jawabanku, Ok sepertinya aku punya cara lain.
“Um..atur aja deh!”
“Siip! Tempatnya keren kok, bisa untuk gathering kantor, tapi keren juga untuk pacaran.” Wina menyunggingkan senyum lebar.
My God. Jawabanku ternyata tidak cukup mengalihkan ceritanya. Aku membalas senyumnya dengan hambar.
“Soalnya kemaren aku kesana sama Dika, tadinya ga mau sih.. baru bangun tidur juga waktu dia nyamperin ke rumah, tapi abis dipikir-pikir sayang juga nolak traktiran.”
“Ooh.”
“Ok deh,kayaknya kamu lagi sibuk sama kerjaan ya? Kalo gitu tar lagi aja ya kita berunding nentuin tempat ya.” Wina bangkit, mengembalikan kursi ke meja sebelah dan meninggalkanku.
FYI, dia bukan benar-benar ingin berunding. Seperti yang sudah kubilang, dia datang cuma untuk menceritakan kencannya. Oh ya, dan soal rencana meeting yang dia bilang, itu juga tidak terlalu menarik untukku. Sebelum ini kami sering bekerja sama menyusun rencana meeting dengan client. Aku yang mengatur tempat dan jalannya acara, Wina bagian sounding. Hal ini yang membuat orang-orang berpikir keseluruhan acara diatur olehnya, sehingga ucapan selamat dan terima kasih hanya ditujukan padanya, dan dia tidak berusaha untuk memberi tahu yang lain ini adalah usahaku juga. Sekali atau dua kali bolehlah, toh aku bukan orang yang tergila-gila pada pujian. Tapi karena hal itu terus-menerus terjadi, sepertinya sudah saatnya aku mundur, membiarkan orang melihat sendiri kinerjanya seperti apa.
Aku menutup halaman office word dan menggantinya dengan mozzila firefox. Membuka sebuah website media social. Tadi itu aku hanya pura-pura sibuk saja.
**
Kamis, 03 Mei 2012
Be Optimistic
Aksi Protes PPI Berlin-Jerman Terhadap Komisi I DPR-RI begitu judul dari sebuah video yang diunggah ke youtube, yang baru gw tonton hari sabtu (28 April 2012) sementara kejadiannya berlangsung pada hari selasa (24 April 2012). Tapi tunggu dulu, jangan langsung menghakimi gw sebagai orang yang ketinggalan berita. Peristiwa luar biasa ini sudah menyebar di media tv beberapa jam setelah kejadian, gw pun tahu karena ga sengaja baca running text ketika sedang menonton salah satu acara tv. Well, bukannya ga sengaja juga sik.. running text di tv swasta biasanya distracting my focus. Jadi hampir di setiap kesempatan nonton tv, gw bukan hanya memperhatikan acara yang sengaja gw tonton tapi juga isi running text. Pun ketika peristiwa protes mahasiswa dengan cara yang demokratis nan elegan ini terjadi. Hanya saja waktu itu gw ga terlalu ngeh peristiwa ini istimewa. Lagipula gw ga terlalu tertarik dengan berita politik, jadi gw hanya asal tahu saja tanpa mencari berita lengkapnya.
Beberapa hari yang lalu gw masih berpikir ini hanya kejadian macam aksi demo damai yang biasa. Siang tadi, nyokap gw yang promosi. Promosinya begini, “Ndah, tadi ada aksi protes mahasiswa yang di Jerman. Jadi mereka protes ke anggota DPR yang datang kesana. Ih.. mahasiswanya keren-keren deh.. pake jas, pake syal, trus kacamata gaul yang gede gitu.”
Lah.
Agak aneh sik penjelasan nyokap gw ini. Karena yang diceritain bukan seperti apa kejadian penolakannya tapi malah penampilan keren mahasiswa-mahasiswanya.
Mahasiswa. Keren. Berlin.
Cukup 3 kata yang pada akhirnya bikin gw sangat penasaran dengan visualisasi kejadian penolakan itu. Cepat-cepat gw buka youtube, dan dengan mudah kutemukan judul peristiwa itu hanya dengan 3 keyword.
Video yang cukup singkat, hanya 9 menit 40 detik namun sangat terasa nasionalisme. Begitulah mahasiswa yang sering disebut sebagai agent of change seharusnya bersikap. Penampilan salah satu dari mereka, yang bernama Sugih itu keren memang iya, tapi selain itu langkah mereka semua juga ga kalah keren, tegas, kritis, tepat sasaran, namun tetap sopan dan damai. Tidak perlu rusuh demo bawa spanduk, pake iket kepala, lantas bakar ban. Cheesy.
Menurut gw langkah mereka untuk mengkritik anggota dewan yang buang-buang anggaran negara hanya untuk studi banding sangat cerdas. Membuat malu adalah salah satu cara yang bisa digunakan agar lain kali mereka berpikir ulang untuk berbondong-bondong dan jauh-jauh melancong ke negeri orang hanya untuk studi banding, apalagi kalau sampai bawa keluarga.
Melihat sikap tegas mahasiswa PPI Berlin-Jerman dan melihat kualitas teman-teman gw yang masuk institusi pemerintahan gw sih optimis generasi muda bisa membuat perubahan dalam negara ini ke arah yang lebih baik. Semoga budaya yang dibawa generasi tua ga merembet ke generasi gw. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)