Setelah sekian lama tidak pernah lagi masuk ke dalam pasar, akhirnya kemaren aku masuk pasar lagi demi memenuhi permintaan ibuku. Pasar Kosambi, Bandung.
Bukan keadaan pasar yang ingin aku ceritakan, tetapi kemunculan seorang anak kecil ketika kami sedang membeli nanas.
Anak itu datang menghampiri kemudian menawarkan, "Bu, mau dibawain belanjaannya?"
Spontan aku dan ibu saling berpandangan setelah mendengar permintaan anak itu. Belanjaan kami tidak banyak, sehingga satu kresek hitam besar cukup kuat untuk aku angkat sendiri, dan kresek hitam kecil yang ringan dibawa ibuku. Cukup.
Entah bagaimana, seakan kami dapat bertelepati, kami sama-sama tersenyum kepada anak kecil itu dan mengiyakan penawarannya.
Aku menyerahkan kresek hitam besar yang berat kepadanya setengah tak tega, "kuat gak?"
"kuat" jawabnya.
Jiwa keibuan membuat ibuku dengan penuh rasa sayang membelai punggungnya, "Jang, sekolah gak?"
Ibuku yang bukan orang sunda asli bertanya dengan bahasa campur-campur. (note: Ujang adalah panggilan untuk anak kecil dalam bahasa Sunda)
Anak itu mengangguk.
"dimana?" tanya ibuku lagi.
"di SD. ....(aku lupa)" jawabnya.
"kelas berapa?"
"kelas enam"
Kelas enam?? aku hampir tidak percaya, karena ukuran tubuhnya tidak sebesar anak kelas 6 SD yang kubayangkan.
"oh..deket.." kata ibuku setengah bergumam.
Dengan tangan kanannya ibuku menunjuk ke arah depan pasar, "deket, di depan situ..", menjawab pandangan kebingunganku.
Akhirnya anak itu, dengan langkah kecilnya terus mengikuti kami berkeliling pasar. Aku tahu anak itu merasa keberatan dengan belanjaan kami. Berkali-kali ia mengubah caranya membawa barang. Sekali ia jinjing, kemudian ia gendong, lalu ganti memanggulnya.
Aaaah.. aku ingin membantunya. Bukan bermaksud bossy, tapi ada aturan main yang sedang berlaku disini.
Tidak lama, kami selesai berbelanja dan siap pulang. Di jalan, di depan angkot yang akan kami tumpangi, kami menyudahinya.
Anak itu menyerahkan kresek hitam besar itu kepada ibuku, aku yang sudah menyiapkan uang untuk upahnya langsung memberikan kepadanya.
Jumlahnya tidak besar, tapi jelas lebih besar dari sekedar upah untuk pengamen atau anak kecil pengojek payung. Jumlah yang menurutku cukup pantas untuk menghargai usahanya.
Di akhir kerja sama kami, aku sempat melontarkan pesan padanya, "sekolahnya yang rajin yaa..".
Anak kecil itu yang baru saja berbalik memunggungi kami, membalik badannya sekilas dan tersenyum, "iya".
Seperti sedang jatuh cinta, perasaanku mengawang-awang. Merasa sangat bahagia dapat membantunya, dan berharap semoga uangnya dipakai untuk membantu keluarganya, atau memenuhi kebutuhan sekolahnya, atau untuk ditabung, atau bahkan..sekedar membeli baju lebaran. Apa saja..
Hmm..aku tidak terlalu suka anak kecil. Apalagi anak kecil yang rese bin menyebalkan, yang suka menangis dan merengek-rengek. Tapi sejak menjalani program KKN sewaktu kuliah dulu pandanganku sedikit berubah. Tidak semua anak kecil menyebalkan.
Apalagi anak kecil yang seperti anak kecil itu, yang mau berusaha untuk mendapatkan uang. Bukan sekedar menadahkan tangan meminta belas kasihan orang lain.