Senin, 28 September 2009

new release


Ketika gambar mengungkapkan lebih dari apa yang bisa dijelaskan kata-kata.

Rabu, 16 September 2009

It's about love and choice

Cerita cinta Azam dan Aya menjadi hal paling menarik yang ditayangkan televisi di bulan puasa ini. Mungkin gw sendiri gag terlalu mengikuti sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 2, karena ceritanya masih mirip dengan Jilid 1-nya. Di tahun ini gw hampir melewatkan -lagi- Jilid ke-3 nya. Karena awalnya gw pikir ceritanya masih akan berputar-putar di masalah yang sama. Dan ternyata tidak.

Berawal dari ketidaksengajaan saat sahur. Tidak ada tayangan yang menarik, gw terpaksa melabuhkan pencarian stasiun televisi di tayangan sinetron ini. Dan di saat itulah gw tau bahwa ada orang ketiga antara hubungan Aya-Azam. Perempuan bernama Kalila. Bukan tokoh baru, tapi baru di Jilid yang ini dia "tiba-tiba" jatuh cinta pada Azam yang jelas-jelas sudah mempunyai pacar. Dan... KBOOM!! hubungan cinta segitiga pun terjadi.
Bla..bla..bla.. cerita yang terjadi cukup menarik untuk dilihat dan dikomentari, apalagi mengenai dialog cerdas yang dihadirkan. Tapi bukan itu yang kepengen gw bahas disini.
Tapi tentang episode-nyaris-ending-nya.

Penonton diberikan kesempatan untuk memberikan suara mereka mengenai akhir hubungan cinta segitiga Aya-Azam-Kalila.
Bagi gw pribadi sih, gw sangat-sangat kepengen cerita cinta itu berakhir bahagia di hubungan Aya-Azam.
Alasannya? Karena perjungan panjang yang telah mereka lalui bersama, suka dan duka. Dan karena sebagian wanita adalah makhluk yang peragu, maka sah-sah aja dong kalau para pria harus setengah bersabar dalam melunakkan hati kami. Tapi yang terjadi di cerita ini.. Azam malah kepincut wanita lain di masa penantiannya. Ya, gw sadar... banyak hal yang bisa terjadi selama masa penantian.
Tapi jika hal yang terjadi adalah hadirnya orang ketiga, itu sudah menjurus ke arah pengkhianatan.

Pada episode-nyaris-ending-nya, bahkan Aya mengambil kesimpulan bahwa Azam pantas untuk memilih Kalila.
Hm... kenapa harus Kalila? Kenapa dia tidak membela dirinya sendiri? hak-nya atas hal yang telah Azam janjikan.

Ya, kenapa harus Kalila??
Hal semacam ini pun rasanya ada di dunia nyata, salah satu temanku pernah mengalaminya. Terpaksa ditinggalkan karena cowoknya lebih memilih cewek lain yang menurut cowok itu lebih membutuhkan dirinya. Wanita rapuh.
Memangnya kenapa dengan wanita yang tegar dan kuat? apakah mereka tidak pantas mendapatkan kebahagiaan apabila bersaing dengan wanita rapuh??

Bahkan ketika Azam disuruh memilih, dia pernah berkata bahwa dia akan memilih salah satu di antara Aya-Kalila yang paling lemah, yang lebih butuh bantuan.

Ya ya.. pria-pria selalu merasa dirinya sebagai pelindung bagi wanita yang dikasihinya. Mereka bakal berpikir, wanita yang kuat dan tegar akan dapat tetap berdiri tegak setelah menghadapi masalah. Akan baik-baik saja hidupnya jika mereka ditinggalkan.
Gw kasih tau, kenyataannya sama sekali tidak seperti itu. Mereka tidak mengerti, setegar apapun, sekuat apapun, semandiri apapun, wanita tetap membutuhkan pelindung. Wanita tetap seorang wanita.

So.. vote for Aya!!

Senin, 07 September 2009

Hanya anak kecil.

Setelah sekian lama tidak pernah lagi masuk ke dalam pasar, akhirnya kemaren aku masuk pasar lagi demi memenuhi permintaan ibuku. Pasar Kosambi, Bandung.
Bukan keadaan pasar yang ingin aku ceritakan, tetapi kemunculan seorang anak kecil ketika kami sedang membeli nanas.
Anak itu datang menghampiri kemudian menawarkan, "Bu, mau dibawain belanjaannya?"
Spontan aku dan ibu saling berpandangan setelah mendengar permintaan anak itu. Belanjaan kami tidak banyak, sehingga satu kresek hitam besar cukup kuat untuk aku angkat sendiri, dan kresek hitam kecil yang ringan dibawa ibuku. Cukup.
Entah bagaimana, seakan kami dapat bertelepati, kami sama-sama tersenyum kepada anak kecil itu dan mengiyakan penawarannya.
Aku menyerahkan kresek hitam besar yang berat kepadanya setengah tak tega, "kuat gak?"
"kuat" jawabnya.
Jiwa keibuan membuat ibuku dengan penuh rasa sayang membelai punggungnya, "Jang, sekolah gak?"
Ibuku yang bukan orang sunda asli bertanya dengan bahasa campur-campur. (note: Ujang adalah panggilan untuk anak kecil dalam bahasa Sunda)
Anak itu mengangguk.
"dimana?" tanya ibuku lagi.
"di SD. ....(aku lupa)" jawabnya.
"kelas berapa?"
"kelas enam"
Kelas enam?? aku hampir tidak percaya, karena ukuran tubuhnya tidak sebesar anak kelas 6 SD yang kubayangkan.
"oh..deket.." kata ibuku setengah bergumam.
Dengan tangan kanannya ibuku menunjuk ke arah depan pasar, "deket, di depan situ..", menjawab pandangan kebingunganku.
Akhirnya anak itu, dengan langkah kecilnya terus mengikuti kami berkeliling pasar. Aku tahu anak itu merasa keberatan dengan belanjaan kami. Berkali-kali ia mengubah caranya membawa barang. Sekali ia jinjing, kemudian ia gendong, lalu ganti memanggulnya.
Aaaah.. aku ingin membantunya. Bukan bermaksud bossy, tapi ada aturan main yang sedang berlaku disini.
Tidak lama, kami selesai berbelanja dan siap pulang. Di jalan, di depan angkot yang akan kami tumpangi, kami menyudahinya.
Anak itu menyerahkan kresek hitam besar itu kepada ibuku, aku yang sudah menyiapkan uang untuk upahnya langsung memberikan kepadanya.
Jumlahnya tidak besar, tapi jelas lebih besar dari sekedar upah untuk pengamen atau anak kecil pengojek payung. Jumlah yang menurutku cukup pantas untuk menghargai usahanya.
Di akhir kerja sama kami, aku sempat melontarkan pesan padanya, "sekolahnya yang rajin yaa..".
Anak kecil itu yang baru saja berbalik memunggungi kami, membalik badannya sekilas dan tersenyum, "iya".
Seperti sedang jatuh cinta, perasaanku mengawang-awang. Merasa sangat bahagia dapat membantunya, dan berharap semoga uangnya dipakai untuk membantu keluarganya, atau memenuhi kebutuhan sekolahnya, atau untuk ditabung, atau bahkan..sekedar membeli baju lebaran. Apa saja..

Hmm..aku tidak terlalu suka anak kecil. Apalagi anak kecil yang rese bin menyebalkan, yang suka menangis dan merengek-rengek. Tapi sejak menjalani program KKN sewaktu kuliah dulu pandanganku sedikit berubah. Tidak semua anak kecil menyebalkan.

Apalagi anak kecil yang seperti anak kecil itu, yang mau berusaha untuk mendapatkan uang. Bukan sekedar menadahkan tangan meminta belas kasihan orang lain.

Kenapa cewe suka film TWILIGHT?? bagian 2

Ya, aku sangat bertanya-tanya kenapa cewe suka film twilight??
Finally i watched it. I hate the film by the way.
Filmnya menghancurkan gambaran yang aku buat dalam khayalan. Dan menghilangkan kemasukakalan novel ini (di luar hal vampir sparkling di bawah cahaya matahari)

Menonton film based on novel selalu mengecewakan. Hal yang pernah aku rasakan beberapa kali sebelum ini, terutama di film Harry Potter dan Cintapuccino. Tapi aku mengulang kesalahan yang sama. Aku membaca novelnya (lagi) terlebih dahulu agar lebih merasa penasaran dengan ending sebenarnya dalam novel, bukan versi film. Sayangnya khayalanku dari hal-hal yang digambarkan dalam novel tidak terwujud dalam filmnya. Ini sedikit membuktikan bahwa khayalan manusia sangat tinggi, bahkan hingga manusia itu sendiri kesulitan untuk merealisasikannya dalam bentuk visual.

Ya, ya.. aku tahu.. mereka bilang film itu media yang jauh berbeda dengan novel. Jadi hampir tidak mungkin mengejawantahkan novel ke dalam film dengan sama persis. Kedua hal itu punya 'bahasa' yang berbeda. Lagipula interpretasi masing-masing orang atas sebuh tulisan sudah pasti berbeda.

Ya, aku tau. Tapi alasan apapun tidak bisa membuat aku berkhayal di bawah standar khayalan yang aku punya.
Aku menyesal Edward Cullen tidak sekaku, seganteng, semisterius, seromantis, seheroik, dan gerakan berbalik seanggun yang digambarkan dalam novel.
Aku menyesal mengapa justru bagiku Carlisle dan Emmet Cullen (dan bahkan Mike Newton) lebih ganteng daripada tokoh utamanya.
Aku menyesal Isabella Swan digambarkan jauh lebih metropolis daripada dalam novel.
Aku menyesal schene dalam filmnya digambarkan terlalu cepat.
Aku menyesal..

Mungkin lain kali aku akan memulai dengan menonton film yang disadur dari sebuah novel. Mungkin..seperti Da Vinci Code, sehingga tidak terlalu banyak penyesalan. Mungkin..

Tapi aku sangat menyukai novel ini. Amat sangat!! Novel ini sangat menarik, berkali-kali lipat lebih menarik daripada filmnya. Bagi orang yang kecewa dengan film ini, mungkin harus mencoba membaca novelnya. Bukan karena keheroikan Edward yang katanya bikin cewek luluh. Atau karena Edward sangat perhatian. Bukan itu, sungguh. Tapi karena aku merasa perasaan yang sama dengan Isabella Swan ketika Edward menjauhinya. Ah..tidak cukup kata-kata untuk menjelaskannya.

Buku kedua New Moon sudah kutamatkan pula. Tuh kan, dimulai dari novel lagi..
Kan tadi aku bilang, mungkin..

Kiss Kiss.
Indah