Senin, 30 Juli 2012

Satu

Wina, rekan kerjaku, datang menghampiri dengan wajah berseri. Sebelum satu kata pun keluar dari mulutnya, aku sudah bisa menebak. Topik obrolan tidak akan jauh dari pria-pria di sekelilingnya. Aku memberi sekilas senyum padanya, kemudian kembali menatap layar pc. “Lagi ngapain?” Wina menyambar sebuah kursi di sebelahku dan ikutan memperhatikan layar pc ku. “Ah biasa, si bos nyuruh benerin surat penawaran buat calon client pentingnya.” “By the way, meeting besok sama client baru di cafĂ© belakang aja yuk?” Aku meliriknya. Ini dia.. Wina akan mulai berceloteh tentang date entah dengan siapa dari keempat pria yang mendekatinya. Untuk aku, pertanyaan atau pernyataan seperti ini sungguh sangat menjebak. Jawaban berupa pertanyaan seperti “kenapa?” maupun jawaban mengiyakan akan memancing dia bercerita panjang lebar pengalamannya. Tidak ada jawaban yang dapat memberiku jalan keluar dari situasi menyebalkan ini. Serba salah, tapi Wina menunggu jawabanku, Ok sepertinya aku punya cara lain. “Um..atur aja deh!” “Siip! Tempatnya keren kok, bisa untuk gathering kantor, tapi keren juga untuk pacaran.” Wina menyunggingkan senyum lebar. My God. Jawabanku ternyata tidak cukup mengalihkan ceritanya. Aku membalas senyumnya dengan hambar. “Soalnya kemaren aku kesana sama Dika, tadinya ga mau sih.. baru bangun tidur juga waktu dia nyamperin ke rumah, tapi abis dipikir-pikir sayang juga nolak traktiran.” “Ooh.” “Ok deh,kayaknya kamu lagi sibuk sama kerjaan ya? Kalo gitu tar lagi aja ya kita berunding nentuin tempat ya.” Wina bangkit, mengembalikan kursi ke meja sebelah dan meninggalkanku. FYI, dia bukan benar-benar ingin berunding. Seperti yang sudah kubilang, dia datang cuma untuk menceritakan kencannya. Oh ya, dan soal rencana meeting yang dia bilang, itu juga tidak terlalu menarik untukku. Sebelum ini kami sering bekerja sama menyusun rencana meeting dengan client. Aku yang mengatur tempat dan jalannya acara, Wina bagian sounding. Hal ini yang membuat orang-orang berpikir keseluruhan acara diatur olehnya, sehingga ucapan selamat dan terima kasih hanya ditujukan padanya, dan dia tidak berusaha untuk memberi tahu yang lain ini adalah usahaku juga. Sekali atau dua kali bolehlah, toh aku bukan orang yang tergila-gila pada pujian. Tapi karena hal itu terus-menerus terjadi, sepertinya sudah saatnya aku mundur, membiarkan orang melihat sendiri kinerjanya seperti apa. Aku menutup halaman office word dan menggantinya dengan mozzila firefox. Membuka sebuah website media social. Tadi itu aku hanya pura-pura sibuk saja. **