Minggu, 11 Agustus 2013

Sahabat bisa kadaluarsa (?)

Kadaluarsa bisa diartikan sebagai habis masa berlaku. Beberapa wacana berpendapat bahwa kata ini berakar dari bahasa Sanskerta yang artinya "waktu selesai". Biasanya sih kata ini dipakai untuk makanan, tanggal kadaluarsa. Tapi gw percaya sahabat pun bisa kadaluarsa.

Dulu, jaman gw sekolah sahabat adalah segalanya. Orang yang paling dipercaya untuk ceritain kejadian dan perasaan yg gw alami. Dan dari majalah sampai film bioskop berhasil mencuci otak remaja seperti gw, pada masanya, sehingga menganggap bahwa menjadi sahabat berarti ada di samping seseorang setiap orang itu membutuhkan kehadiran kita.

Waktu berlalu, kondisi dan banyak hal lain berubah. Sehingga setiap orang menginterpretasikan kata sahabat sesuai keinginannya masing-masing. Gw, dengan kondisi dimana gw dan sahabat-sahabat tidak bisa bertemu setiap saat jadi menganggap bahwa sahabat adalah orang yang gw percaya titik, yang dalam kondisi seterpaksa apapun tidak akan membagi cerita gw kepada siapapun. Tapi kami tidak harus bertemu setiap saat. Hari gini banyak sosmed, bahkan aplikasi smartphone yang memungkinkan gw untuk menghubungi mereka kapanpun, namun mereka bisa membalasnya saat tidak sibuk. Hubungannya bakal mutualisme, tidak saling merugikan.

Keadaan berubah lagi, beberapa sahabat gw menikah. Dan yang terakhir ini menjadi seperti garis putus-putus di jalan raya. Boleh dilewati tapi sebaiknya tetap berada di jalur awalnya. Maksudnya, ketika sahabat kita menikah otomatis muncul beberapa pakem yang tidak bisa lagi diabaikan. Misalnya datang setiap kita membutuhkan kehadiran mereka. Karena keluarga baru mereka pasti menjadi yang nomor satu, dan sahabat entah menjadi nomor keberapa. Bahkan ada sahabat gw yang bahkan ngatur waktu untuk ketemu sekedar simply chit-chat aja susah. Inilah yang gw sebut dengan sahabat yang udah kadaluarsa. Mau cerita tapi takut ganggu kesibukannya, mau ketemu tapi susah atur waktunya, dan tingkat ke-urgensi-an masalah hidup lo di hidupnya udah jadi nomor kesekian.

Baru sekarang kerasanya. Dulu kalau punya sahabat cowo rasanya aman, ada yang jaga dan ada yang bisa diandalkan. Tapi nggak cewe, nggak cowo kalau udah menikah sama aja. Lo bukan prioritasnya lagi.

Seperti makanan, kalau udah kadaluarsa ya jangan dimakan. Cari lagi makanan yang lain.
Bedanya kalau sahabat ya jangan dibuang lah yaa. Suatu saat ketika keadaan kamu dan dia udah mirip, walaupun ga bisa sering-sering ketemu kalian masih bisa tuker cerita atau minta pendapat kok.

Kamis, 01 Agustus 2013

Tidur siangnya mimpi semangka.

Media social bikin sebagian orang berubah dari introvert jadi ekstrovert, bahkan ada yang jadi over ekstrovert. Yang isi statusnya kayak pengen semua orang tau gimana hidupnya. Kecuali lo artis, ga penting deh ngasih tau ke orang-orang bahwa tadi siang lo mimpiin semangka. Well, I did that. Used to.

Gw tersadarkan setelah ngobrol sama salah satu sahabat gw yg masih aktif di twitter, tapi tweet-tweetnya bukan curcol. Gw bukan orang penting. Dan orang penting ga mau follow kalo isi tweet gw hanya tentang mimpi semangka di siang hari. Tweet yang kalopun dijadiin bahan obrolan kayak gini, "eh.. tadi gw tidur siang trus mimpi makan semangka, semangkanya merah dan tanpa biji". Kalau orang cerita gitu ke gw, gw males komen. Kalopun komen pasti ga enak "oh.. terus kenapa?"

Selain itu, tiba-tiba inget ada tweet begini di timeline gw: "ngiri sama orang yang tweetnya keren-keren. Tapi lebih ngiri lagi sama orang yang hidupnya bahagia tanpa twitteran" (@BungaMizo).
Berasa ditonjok. Bener juga..

So, sementara gw mau berenti twitteran. Hibernasi. Kita liat berapa lama gw bertahan.

Sendu syahdunya di blog aja. Ga ada yang baca, jadi ga dituduh drama queen :D