Minggu, 27 Desember 2009

A for Avatar, C for Cinema.

A for Avatar, C for Cinema.

Film yang disutradari oleh James Cameron ini memang layak dapet acungan jempol. Sangat imajinatif. Banyak penggambaran yang terlihat memukau. Pulau-pulau yang dibuat melayang, binatang-binatang yang terlihat sungguhan hidup, sampai tanaman-tanaman yang glow in the dark. Kelebihan lainnya ada di jalan cerita.

Sebelum nonton film ini gw sempet baca status seorang temen gw di facebook, katanya "Avatar bagus banget, STOP penebangan pohon-pohon!! Aku benci mereka yang suka nebangin pohon-pohon!!" begitu kira-kira. Tapi bukan, film ini bukan propaganda untuk mereka para penebang liar. Ya, dalam film ini memang ada bagian yang menceritakan oknum yang menebang pohon besar bahkan keramat untuk maksud tertentu. Tapi menurut interpretasi gw bukan itu maksud utamanya. Yang gw tangkep maksud dari film itu untuk berhenti mengeksploitasi sumber daya alam dari bumi ini hanya demi kepentingan materi dan mengabaikan keseimbangan alam. Yah, karena 'alam bisa murka'. Gw sangat percaya alam punya cara sendiri untuk menyeimbangkan dirinya. Ketika dirinya dirusak secara sengaja atau tidak, maka ia bisa saja balik membalas. Bukan membalas karena dendam, tapi untuk kembali menyeimbangkan dirinya.
Itu yang ditunjukkan dalam film ini. Ketika suku Omaticaya tidak sanggup menghalau oknum yang ingin mengeksploitasi, maka alam yang berbicara melalui makhluk-makhluk yang tinggal di dalamnya.
Thumbs up untuk inti ceritanya.

Walaupun begitu, ada juga kelemahan dari sisi ceritanya. Yaitu ketika diceritakan Mo'at sang pemimpin suku Na'vi sudah tidak dapat menyelamatkan nyawa Grace karena Jake Sully terlambat membawanya. Tapi di schene berikutnya diceritakan Grace (seperti) hidup kembali, ia menggertak pihak militer untuk berhenti menyerang bangsa Omaticaya.
Entah karena gw yang bolot jadi nggak ngerti apa maksud schene sebelumnya atau memang ada keanehan di jalan ceritanya.

Atau mungkin keanehan jalan cerita ini ada sangkut pautnya dengan peristiwa cacatnya rol film ini di bioskop tempat gw nonton.
Film berhenti di tengah-tengah memang sudah biasa. Tapi berhenti berkali-kali rasanya cukup aneh dan menyebalkan.
Untuk bioskop sekelas XXI (dimana penonton diminta membayar lebih mahal daripada biskop 21, terutama di hari libur), kecelakaan seperti ini seharusnya tidak terjadi. Ya, mungkin gw yang kurang beruntung dan salah memilih tempat. Pertama kali film itu berhenti mendadak semua penonton otomatis menyoraki, kemudian ketika film dilanjutkan ceritanya lompat seperti ada bagian yang hilang, lalu berhenti mendadak lagi, selanjutnya film di-rewind dari bagian yang sudah diputar, film diberhentikan lagi untuk kemudian diputar ulang di 'titik pause'.
Phew. Sangat mengecewakan. Bahkan beberapa penonton 'pundung' dan melakukan walk out ketika film mati untuk kedua kalinya.

Begini nih gambar yang sampe muncul 2 kali, seada-adanya untuk menyampaikan rasa maaf dari pihak bioskop untuk kesalahan yang terjadi. cuih.

Mungkin karena rol filmnya cacat jadi ada bagian film yang hilang,
Mungkin juga memang cerita film ini nggak gw mengerti,
Atau mungkin memang jalan ceritanya aneh.

Kalau dinilai seperti bentuk Kartu Hasil Studi:
A for Avatar.
C for Cinema.

Senin, 21 Desember 2009

read this!

yoi, this post is highly recommended by me.

http://dee-idea.blogspot.com/2009/12/luna-bukan-kopaja.html

Senin, 14 Desember 2009

Aku masih menjadi manusia pengangkot

Aku agak kesulitan mencari kata yang tepat untuk mengefisienkan kata "pengguna angkot", makanya untuk sementara ini ijinkan aku menggunakan kata "pengangkot".

Sebagai pengangkot, aku mendapat beberapa kemudahan. Antara lain bisa jalan-jalan keliling kota tanpa kehujanan dibanding mengemotor, bisa menyambi selama perjalanan (sebut saja: baca buku, tidur, internetan, wiii.. i'm so modern huh?!). Tapi kemudahan yang aku dapatkan itu tidak lantas membuatku melalaikan hak dan kewajiban pengguna jalan. Aku merasa masih di batas wajar etika pengguna jalan, masih merasa sebagai pengangkot yang tau aturan.
Aku agak jengah ketika kemaren di angkot yang aku tumpangi ada beberapa anak muda yang keukeuh minta berhenti di belokan. Hey, jalanan udah macet.. masih mau ngerepotin mobil-mobil di belakang dengan berhenti di tempat yang tidak seharusnya? come on..

Yeah, kadang ketika angkot berhenti di tempat yang tidak seharusnya itu bukan kesalahan pribadi si supir. Karena ada juga pengangkot yang seenaknya ngotot minta berhenti di tempat yang tidak seharusnya.

Coba aja di kota tempat aku tinggali ini manusia-manusianya lebih aware dengan tata tertib lalu lintas, baik supir maupun penumpangnya. Pasti jalanan akan lebih tertib dan teratur, enak diliat, dan enak ditinggali serta disinggahi.

Bandungku sayang, Bandungku malang.
:(

Senin, 07 Desember 2009

Plin Plan is (not) my middle name!

Tanya padaku "positif atau negatif?", aku akan menjawab: nol.
Tanya padaku "pantai atau gunung?", aku akan menjawab: terserah.
Tanya padaku "sedikit atau banyak?", aku akan menjawab: tergantung.
Tanya padaku "datang atau tidak?", aku akan menjawab lihat nanti.

Karena tidak ada yang benar-benar putih atau benar-benar hitam, jadi aku memilih yang abu-abu.

Plin plan is (not) my middle name.

Rabu, 11 November 2009

6 degrees of friend


6 degree yang boyband?
Bukan, itu sih 98 degrees.
Tapi 6 degrees of mutual friend.

Seperti yang pernah gw saksikan di talkshownya Oprah, bahwa pada dasarnya setiap orang (somehow) terhubung satu sama lain in 6 degrees or less.
Kenapa tiba-tiba ngomongin ini?
Karena kemarin ketika gw sedang kunjungan ke suatu kawasan industri gw bertemu temen 6 degrees. Dua orang.
Yang pertama seorang cowok, yang namanya tidak perlu gw sebutkan disini, kan? Ternyata dia adalah teman dari teman gw dulu waktu kuliah. Orang itu temen deket temanku, dan aku berteman dekat dengan temanku yang temannya dia itu.
Yang kedua, seorang wanita paruh baya. Dia adalah teman dari dosenku.
Aku berusaha untuk tidak percaya dengan kebetulan. Tapi bertemu sekaligus dengan 2 teman 6 degrees di satu tempat, mm.. bisa tolong bantu sebutkan apa istilahnya??
Dan terilhami oleh peristiwa itu, gw semakin percaya dengan yang namanya 6 degrees of mutual friend.
Bahwa somehow, we're all connected in 6 degrees or less.

Jadi penasaran, pengen deh sekali-kali maenin "cari teman 6 degrees" seperti yang pernah diadain sama Oprah. Mencari seseorang dengan clue hanya nama dan spesifikasi tertentu dari orang itu (menghindari kesalahan karena kesamaan nama), melalui teman gw, dan temannya teman gw, dan temannya temannya teman gw, dan temannya temannya temannya teman gw, dan seterusnya.

People, suggest me someone!

Selasa, 03 November 2009

Catatan atas catatan harian pelajar bodoh, si kambing jantan the movie

Gw ngefans banget sama Raditya Dika. Sama novel pertamanya, sama blognya, sama twitnya di twitter. Tapi baru kemaren ada kesempatan nonton filmnya 'Kambing Jantan, the movie'.
Gw sempet denger sih dulu ada teman gw yang berkomentar "filmnya garing", "lucu tapi ga lucu-lucu amat", atau "yaa gituu dehh".

Sampai gw membuktikannya sendiri. Sumpah, kocak banget!
Ok, filmnya memang bukan lucu yang kayak 'Opera Van Java' yang kelucuannya karena adegan fisik. Lucunya film ini ada di dialognya. Dan menurut gw justru itu yang jadi kekuatan film ini.
Menonton film ini seperti sedang menonton Dika -live- melewati hari-harinya. Dialognya ga standar (kalau nilai mah) bahkan di atas rata-rata, dan beneran seperti cara pandang Dika dalam kehidupan nyatanya. Unpredictable.

Kalau diliat secara keseluruhan sih, endingnya anti klimaks. Si Kambing putus sama si Kebo, berhenti kuliah di Australi, dan berakhir dengan pilihan hidupnya 'membuat cerita' begitu dia bilang. Tapi buat gw itu bukan masalah. Karena toh di kehidupan nyata jarang sekali ada happy ending.

Buat yang belum pernah nonton film ini tapi punya keinginan untuk nonton film ini, gw kasih sedikit tips. Jangan nyimak jalan cerita dari film ini, karena endingnya yang anti klimaks buat sebagian orang bakal mengecewakan, tapi coba perhatiin tiap detail dialognya, dan lo bakal merasa terhibur!

Lain kali, kalau film barunya Dika diputer di bioskop, gw pastiin ga bakal gw lewatin.
Men, lucu abis aja gitu!!

Minggu, 11 Oktober 2009

Simple As Can Be


Kenapa susah sekali jadi manusia yang simple?
Yang makan kalau laper,
Yang nangis kalau sedih,
Yang marah kalau kesel,
Yang manyun kalau betek.

Harusnya gampang, toh pada dasarnya semua manusia tercipta dengan nalurinya untuk berekspresi.
Namun tidak semua mau dan mampu mengekspresikan perasaannya yang sebenernya sedang dirasain.
Bahkan dalam novel Harry Potter, pernah ada sebuah quote yang diucapkan Dumbledore, "hanya orang bodoh yang dengan jelas memperlihatkan perasaannya".
Nah loh, kok orang yang simple malah dibilang bodoh?
Karena akan dengan mudah dibaca musuh? ia kalau musuh itu ngerti kita sedang menunjukkan perasaan kita yang sebenernya. Bisa aja dia justru mengira kita sedang menunjukkan ekspresi yang menipu.

Aha!
Gw tau sekarang.
Jelas susah untuk jadi se-simple itu.
Karena kadang itu memperlihatkan kelemahan kita, dan kita sering gengsi untuk terlihat lemah di depan orang lain, kan?
karena kebebasan kita untuk berekspresi juga sering bentrok dengan perasaan orang lain. Dan kita sering terpaksa menjaga perasaan orang lain agar suasana tetap harmonis.
Dan karena being simple sebelas-dua belas dengan naive.

Tapi seandainya bisa, gw mau jadi orang yang simple.

Rabu, 07 Oktober 2009

Human Intelligent

Well, gw udah pernah baca tentang intelegensi ini dari beberapa tahun yang lalu. Jadi menurut Howard Gardner, intelegensi manusia ini bisa dibedain menjadi 8 macam.

Intelegensia linguistik, logis matematik, visual spasial, kinestetik tubuh, musikal, naturalis, intrapersonal, dan interpersonal.

Dan tidak, gw tidak akan membahasnya satu-satu. Mengenai hal itu bisa baca dari banyak sumber lain.

Gw hanya.. penasaran, intelegensia apa yang gw miliki. Berdasarkan sebuah quiz yang pernah gw ikuti, katanya kecerdasan gw yang paling tinggi adalah intrapersonal. Yaitu (katanya) kemampuan berpikir untuk memahami diri sendiri, melakukan refleksi diri dan bermetakognisi. (katanya lagi) Intelegensi ini menjadikan seseorang memiliki kemampuan menggunakan kehidupan emosional untuk memahami dirinya sendiri dan orang lain.

Hm.. gw ga tau apakah kemampuan gw untuk membaca sikap orang lain dengan tepat, misalnya sedang berbohong, menyembunyikan sesuatu, menutupi sesuatu adalah hal yang wajar tapi gw besar-besarkan. Atau itulah yang dimaksud dengan intelegensi jenis intrapersonal. Atau mungkin hanya kebiasaan gw menganalisis dan menarik kesimpulan saja?????

Senin, 28 September 2009

new release


Ketika gambar mengungkapkan lebih dari apa yang bisa dijelaskan kata-kata.

Rabu, 16 September 2009

It's about love and choice

Cerita cinta Azam dan Aya menjadi hal paling menarik yang ditayangkan televisi di bulan puasa ini. Mungkin gw sendiri gag terlalu mengikuti sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 2, karena ceritanya masih mirip dengan Jilid 1-nya. Di tahun ini gw hampir melewatkan -lagi- Jilid ke-3 nya. Karena awalnya gw pikir ceritanya masih akan berputar-putar di masalah yang sama. Dan ternyata tidak.

Berawal dari ketidaksengajaan saat sahur. Tidak ada tayangan yang menarik, gw terpaksa melabuhkan pencarian stasiun televisi di tayangan sinetron ini. Dan di saat itulah gw tau bahwa ada orang ketiga antara hubungan Aya-Azam. Perempuan bernama Kalila. Bukan tokoh baru, tapi baru di Jilid yang ini dia "tiba-tiba" jatuh cinta pada Azam yang jelas-jelas sudah mempunyai pacar. Dan... KBOOM!! hubungan cinta segitiga pun terjadi.
Bla..bla..bla.. cerita yang terjadi cukup menarik untuk dilihat dan dikomentari, apalagi mengenai dialog cerdas yang dihadirkan. Tapi bukan itu yang kepengen gw bahas disini.
Tapi tentang episode-nyaris-ending-nya.

Penonton diberikan kesempatan untuk memberikan suara mereka mengenai akhir hubungan cinta segitiga Aya-Azam-Kalila.
Bagi gw pribadi sih, gw sangat-sangat kepengen cerita cinta itu berakhir bahagia di hubungan Aya-Azam.
Alasannya? Karena perjungan panjang yang telah mereka lalui bersama, suka dan duka. Dan karena sebagian wanita adalah makhluk yang peragu, maka sah-sah aja dong kalau para pria harus setengah bersabar dalam melunakkan hati kami. Tapi yang terjadi di cerita ini.. Azam malah kepincut wanita lain di masa penantiannya. Ya, gw sadar... banyak hal yang bisa terjadi selama masa penantian.
Tapi jika hal yang terjadi adalah hadirnya orang ketiga, itu sudah menjurus ke arah pengkhianatan.

Pada episode-nyaris-ending-nya, bahkan Aya mengambil kesimpulan bahwa Azam pantas untuk memilih Kalila.
Hm... kenapa harus Kalila? Kenapa dia tidak membela dirinya sendiri? hak-nya atas hal yang telah Azam janjikan.

Ya, kenapa harus Kalila??
Hal semacam ini pun rasanya ada di dunia nyata, salah satu temanku pernah mengalaminya. Terpaksa ditinggalkan karena cowoknya lebih memilih cewek lain yang menurut cowok itu lebih membutuhkan dirinya. Wanita rapuh.
Memangnya kenapa dengan wanita yang tegar dan kuat? apakah mereka tidak pantas mendapatkan kebahagiaan apabila bersaing dengan wanita rapuh??

Bahkan ketika Azam disuruh memilih, dia pernah berkata bahwa dia akan memilih salah satu di antara Aya-Kalila yang paling lemah, yang lebih butuh bantuan.

Ya ya.. pria-pria selalu merasa dirinya sebagai pelindung bagi wanita yang dikasihinya. Mereka bakal berpikir, wanita yang kuat dan tegar akan dapat tetap berdiri tegak setelah menghadapi masalah. Akan baik-baik saja hidupnya jika mereka ditinggalkan.
Gw kasih tau, kenyataannya sama sekali tidak seperti itu. Mereka tidak mengerti, setegar apapun, sekuat apapun, semandiri apapun, wanita tetap membutuhkan pelindung. Wanita tetap seorang wanita.

So.. vote for Aya!!

Senin, 07 September 2009

Hanya anak kecil.

Setelah sekian lama tidak pernah lagi masuk ke dalam pasar, akhirnya kemaren aku masuk pasar lagi demi memenuhi permintaan ibuku. Pasar Kosambi, Bandung.
Bukan keadaan pasar yang ingin aku ceritakan, tetapi kemunculan seorang anak kecil ketika kami sedang membeli nanas.
Anak itu datang menghampiri kemudian menawarkan, "Bu, mau dibawain belanjaannya?"
Spontan aku dan ibu saling berpandangan setelah mendengar permintaan anak itu. Belanjaan kami tidak banyak, sehingga satu kresek hitam besar cukup kuat untuk aku angkat sendiri, dan kresek hitam kecil yang ringan dibawa ibuku. Cukup.
Entah bagaimana, seakan kami dapat bertelepati, kami sama-sama tersenyum kepada anak kecil itu dan mengiyakan penawarannya.
Aku menyerahkan kresek hitam besar yang berat kepadanya setengah tak tega, "kuat gak?"
"kuat" jawabnya.
Jiwa keibuan membuat ibuku dengan penuh rasa sayang membelai punggungnya, "Jang, sekolah gak?"
Ibuku yang bukan orang sunda asli bertanya dengan bahasa campur-campur. (note: Ujang adalah panggilan untuk anak kecil dalam bahasa Sunda)
Anak itu mengangguk.
"dimana?" tanya ibuku lagi.
"di SD. ....(aku lupa)" jawabnya.
"kelas berapa?"
"kelas enam"
Kelas enam?? aku hampir tidak percaya, karena ukuran tubuhnya tidak sebesar anak kelas 6 SD yang kubayangkan.
"oh..deket.." kata ibuku setengah bergumam.
Dengan tangan kanannya ibuku menunjuk ke arah depan pasar, "deket, di depan situ..", menjawab pandangan kebingunganku.
Akhirnya anak itu, dengan langkah kecilnya terus mengikuti kami berkeliling pasar. Aku tahu anak itu merasa keberatan dengan belanjaan kami. Berkali-kali ia mengubah caranya membawa barang. Sekali ia jinjing, kemudian ia gendong, lalu ganti memanggulnya.
Aaaah.. aku ingin membantunya. Bukan bermaksud bossy, tapi ada aturan main yang sedang berlaku disini.
Tidak lama, kami selesai berbelanja dan siap pulang. Di jalan, di depan angkot yang akan kami tumpangi, kami menyudahinya.
Anak itu menyerahkan kresek hitam besar itu kepada ibuku, aku yang sudah menyiapkan uang untuk upahnya langsung memberikan kepadanya.
Jumlahnya tidak besar, tapi jelas lebih besar dari sekedar upah untuk pengamen atau anak kecil pengojek payung. Jumlah yang menurutku cukup pantas untuk menghargai usahanya.
Di akhir kerja sama kami, aku sempat melontarkan pesan padanya, "sekolahnya yang rajin yaa..".
Anak kecil itu yang baru saja berbalik memunggungi kami, membalik badannya sekilas dan tersenyum, "iya".
Seperti sedang jatuh cinta, perasaanku mengawang-awang. Merasa sangat bahagia dapat membantunya, dan berharap semoga uangnya dipakai untuk membantu keluarganya, atau memenuhi kebutuhan sekolahnya, atau untuk ditabung, atau bahkan..sekedar membeli baju lebaran. Apa saja..

Hmm..aku tidak terlalu suka anak kecil. Apalagi anak kecil yang rese bin menyebalkan, yang suka menangis dan merengek-rengek. Tapi sejak menjalani program KKN sewaktu kuliah dulu pandanganku sedikit berubah. Tidak semua anak kecil menyebalkan.

Apalagi anak kecil yang seperti anak kecil itu, yang mau berusaha untuk mendapatkan uang. Bukan sekedar menadahkan tangan meminta belas kasihan orang lain.

Kenapa cewe suka film TWILIGHT?? bagian 2

Ya, aku sangat bertanya-tanya kenapa cewe suka film twilight??
Finally i watched it. I hate the film by the way.
Filmnya menghancurkan gambaran yang aku buat dalam khayalan. Dan menghilangkan kemasukakalan novel ini (di luar hal vampir sparkling di bawah cahaya matahari)

Menonton film based on novel selalu mengecewakan. Hal yang pernah aku rasakan beberapa kali sebelum ini, terutama di film Harry Potter dan Cintapuccino. Tapi aku mengulang kesalahan yang sama. Aku membaca novelnya (lagi) terlebih dahulu agar lebih merasa penasaran dengan ending sebenarnya dalam novel, bukan versi film. Sayangnya khayalanku dari hal-hal yang digambarkan dalam novel tidak terwujud dalam filmnya. Ini sedikit membuktikan bahwa khayalan manusia sangat tinggi, bahkan hingga manusia itu sendiri kesulitan untuk merealisasikannya dalam bentuk visual.

Ya, ya.. aku tahu.. mereka bilang film itu media yang jauh berbeda dengan novel. Jadi hampir tidak mungkin mengejawantahkan novel ke dalam film dengan sama persis. Kedua hal itu punya 'bahasa' yang berbeda. Lagipula interpretasi masing-masing orang atas sebuh tulisan sudah pasti berbeda.

Ya, aku tau. Tapi alasan apapun tidak bisa membuat aku berkhayal di bawah standar khayalan yang aku punya.
Aku menyesal Edward Cullen tidak sekaku, seganteng, semisterius, seromantis, seheroik, dan gerakan berbalik seanggun yang digambarkan dalam novel.
Aku menyesal mengapa justru bagiku Carlisle dan Emmet Cullen (dan bahkan Mike Newton) lebih ganteng daripada tokoh utamanya.
Aku menyesal Isabella Swan digambarkan jauh lebih metropolis daripada dalam novel.
Aku menyesal schene dalam filmnya digambarkan terlalu cepat.
Aku menyesal..

Mungkin lain kali aku akan memulai dengan menonton film yang disadur dari sebuah novel. Mungkin..seperti Da Vinci Code, sehingga tidak terlalu banyak penyesalan. Mungkin..

Tapi aku sangat menyukai novel ini. Amat sangat!! Novel ini sangat menarik, berkali-kali lipat lebih menarik daripada filmnya. Bagi orang yang kecewa dengan film ini, mungkin harus mencoba membaca novelnya. Bukan karena keheroikan Edward yang katanya bikin cewek luluh. Atau karena Edward sangat perhatian. Bukan itu, sungguh. Tapi karena aku merasa perasaan yang sama dengan Isabella Swan ketika Edward menjauhinya. Ah..tidak cukup kata-kata untuk menjelaskannya.

Buku kedua New Moon sudah kutamatkan pula. Tuh kan, dimulai dari novel lagi..
Kan tadi aku bilang, mungkin..

Kiss Kiss.
Indah

Jumat, 31 Juli 2009

if there is a will, there is a way..


Um, harusnya..gw ga pake judul itu untuk postingan kali ini. Tapi rasanya terlalu eye catching kalo judulnya "quarter life crisis". Ntar sebelum orang baca apa isi tulisan ini udah nge-judge duluan bahwa ga sedang mengalami syndrome itu.

Padahal emang.

Sebelumnya gw pernah baca tentang istilah ini di dalam sebuah novel chicklit. Tapi karena waktu itu umur gw masih muda jadi belum percaya syndrome semacam itu benar-benar ada. Gw rasa (dulu) itu terlalu mengada-ada.

Belakangan ini, kehidupan gw terasa semakin mengabu-abu.
Career, love life, long term plans, life goals.
Meski tidak semua, beberapa teman gw juga merasakan hal yang sama.

Quarter life crisis menurut definisi gw sendiri adalah masa transisi ketika seseorang tidak tau lagi apa yang harus dilakukan dalam hidupnya sehingga munculah kecemasan akan masa depan.

Secara profesional, gw memang sudah bekerja di suatu perusahaan. Perusahaan yang tidak besar, salary yang tidak sebesar harapan, jabatan yang stagnan, dan (um..honestly) merasa overqualified. Pekerjaan yang gw lakukan sekarang jauh dari bayangan gw dulu ketika belum bekerja. Ya sih, pekerjaan gw yang sekarang masih ada hubungannya dengan pendidikan yang gw dapet, which is lab skill. Banyak orang yang bilang, hanya 10% ilmu yang kamu dapet di sekolah atau kampus yang terpakai di dunia kerja. Gw setuju karena sudah membuktikannya, dan ini salah satu hal yang membuat gw merasa overqualified.

Kejengahan yang sama juga gw rasakan ketika melihat teman-teman yang lain berada di zona aman, melihat mereka bisa mengerjakan dan mendapatkan hal yang lebih baik daripada gw.

Tentunya itu bikin gw merasa semakin jauh dari standar hidup yang gw bayangin dulu. Bukan itu saja, gw juga jadi meragukan apakah dengan hidup seperti yang gw jalanin sekarang ini impian-impian gw bisa terwujud??

Huff, tadinya sih gw yakin if there's a will there's a way. Tapi sekarang jadi bingung juga..harus mulai dari mana?? apa yang harus diperbaiki?? apa yang harus dirubah dan dihilangkan???

Hm...it's must be the unique challenges in my twentysomething life..

Rabu, 08 Juli 2009

Berkacalah dulu, sebelum..

Tersebutlah seorang wanita yang sedang berada di dalam sebuah angkot. Di tengah duduk diamnya, di tengah perjalanan angkot yang ia tumpangi berhenti mendadak. Seakan sebuah titah, semua penumpang ikut melihat ke arah depan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Rupanya di tengah jalan yang tidak terlalu besar di dalam sebuah komplek perumahan yang dilewati oleh wanita itu terdapat mobil sedan silver yang melintang menghalangi kendaraan lain dari kedua arah. Sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan angkot itu membnyikan klakson beberapa kali tanda pengemudinya sudah tak sabaran.

Kebingungan dengan mobil melintang yang tak kunjung bergerak, supir angkot melongok keluar "ah, dasar! teu bisaeun nyetir meureun!" katanya penuh penghakiman.

Hanya berselang beberapa saat, dari sebuah rumah tepat di depan tempat kejadian keluarlah seorang wanita semok berusia setengah baya dengan dandanan yang rapih dan gaya, ternyata itu bukan rumah, melainkan sebuah salon yang dari luar lebih terlihat seperti rumah. Wanita itu keluar dengan setengah berlari, tas besar masih dikepit di ketiaknya, sambil menunjuk-nunjuk ke arah mobil melintang itu ia menjerit keras, "rampok..RAAAMMMPOOOOOKK!" Mukanya penuh ekspresi marah, kaget, dan nyolot. Kedua alis naik, mata melotot, dan mulutnya semakin monyong ketika meneruskan teriakannya dari jarak satu setengah meter dari mobilnya, "heh, maliiingg!"

Otomatis semua perhatian korban kemacetan tertuju pada si mobil melintang, mobil melintang yang tak kunjung bergerak. Dalam hati si wanita penumpang angkot itu bersyukur, "untung saja macet, kalau tidak mobil itu pasti telah dibawa kabur secepat kilat oleh si pencuri!", sedikit jiwa heroiknya muncul ingin membantu menyelamatkan mobil melintang itu dari pencurian sekaligus menangkap basah si pelaku pencurian. Tapi sungguh aneh, tidak ada penumpang lain, bahkan supir dan korban-korban kemacetan lain yang turun dari kendaraannya masing-masing untuk menyelamatkan mobil melintang itu.

"loh kok enggak ada yang bantu nyelametin sih?" si wanita penumpang angkot mulai membatin.

Beberapa detik kemudian, seorang tukang baso yang ikut melintas di tempat perkara mendekati wanita yang marah karena mobilnya yang nyaris dibawa kabur orang lain, "Bu, da teu aya sasaha di dalem mobilna oge" kata tukang baso itu santai.

"hah??!" wanita yang marah-marah itu tak percaya.

"teu aya sasaha, Bu!" tukang baso mengulangi kata-katanya.

"mundur sendiri Bu, mundur sendiri" supir mobil kijang yang berlawanan arah dari angkot ikutan menyahut, "enggak direm tangan!"

"ah, masa?" wanita itu semakin mendekati mobil sedannya, "oh..iya.." katanya sambil cengengesan pada teman yang berdiri tak jauh di belakangnya. Ia lantas mengeluarkan kunci dari dalam tas besar dan memasuki mobilnya. Akhirnya mobil itu bergerak maju, memasuki parkiran kecil di depan salon.

"aahh, dasar! lupa rem tangan!" supir angkot geleng-geleng kepala sambil memindahkan perseneling.

Note : pesan yang terkandung dari cerita ini adalah jangan lupa mer-rem tangan mobil yang kamu kendarai.

hohoho..

Bukan deng, tapi..sebagai manusia baiknya jangan buru-buru menyalahkan orang lain atas suatu kesalahan atau musibah yang menimpanya. Kenapa ga berkaca dulu, mungkin letak awal kesalahannya justru ada di dirinya sendiri. Dasar manusia!!

Kamis, 02 Juli 2009

Tribute to my dearest best friend ever

ehm..ga tau knapa perasaan gw detik ini sangat-sangat mellow..
Bukan bersedih, tapi sumpah bersyukur..

Dapet banyak ucapan selamat waktu ulang taun, 27 juni maen ke rumah kopi, 28 juni hiking, dan tadi malem banget ke PRJ. Hal-hal yang tidak saing berkait itu tiba-tiba meresap begitu dalam, membuat gw menyadari telah diberikan hidup yang sangat-sangat indah. Tidak hanya punya keluarga yang amazing menyayangi gw sepenuh hati, tapi juga punya banyak sahabat yang sangat baik dan pengertian.

Ketika banyak orang mendefinisikan arti persahabatan yang katanya selalu ada di saat suka dan duka yang sekarang sudah kurang relevan lagi dengan kehidupan perantauan gw, gw sudah merasa cukup punya kalian semua. Yang bisa ngertiin kalo gw pengen sendiri atau pengen bareng-bareng, pengen curhat atau pengen diem aja, atau cuma sekedar ketemu dan sharing hal-hal ga penting yang bikin gw merasa Tuhan memberikan yang terbaik buat gw sedikit demi sedikit.

Ya, mungkin itu salah satu alesannya kenapa gw mellow sekali saat ini. Gw merasa sedang ada di turning point untuk sekian kalinya, setelah melewati masalah-masalah yang bikin gw cepet emosi, kali ini gw ngerasa kehidupan gw membaik. Sumpah ya, Tuhan telah begitu baik merencanakan semua ini.

huks, mari berpelukan..

Thanks guys, gw begitu beruntung punya sahabat seperti kalian. (tanpa berusaha menimbang siap yang lebih baik dari siapa dalam urutan berikut ini, dan siapa yang ditag terlebih dahulu) Ini adalah ucapan terimakasih gw sebesar-besarnya untuk.......
  • ie-ie : yang telah begitu wise menanggapi semua curhatan gw dan vava
  • vava : yang telah begitu sering menampung curhatan gw, prinsip-prinsip dan pengetahuan lo yang selalu wowing
  • aciw : yang telah begitu sering meluangkan waktu untuk hafe vun bareng, mau percayain rahasia lo tanpa maksa gw untuk cerita hal yang tidak ingin gw bahas
  • ucas : yang gw rasa, kenapa walaupun kita jauhan tapi kita masih aja sehati
  • merry : yang udah jadi sahabat gw begitu lama
  • begy : yang pemikiran dan pendapat lo sedikit demi sedikit mempengaruhi pandangan gw juga

    Teruslah menjadi sahabat gw, dan teruslah mengispirasi gw..

    Best regards
    ^_^

Minggu, 21 Juni 2009

Kenapa cewe suka film TWILIGHT

Film Twilight ini meraih banyak kemenangan di MTv movie award. sebut aja...
Best Fight : Robert Pattinson vs Cam Gigandet
Breaktrough performance male : Robert Pattinson
Best female performance : Kristen Stewart
Best kiss : Kristen Stewart and Robert Pattinson
dan tentunya.. BEST MOVIE
Gw menyaksikan siaran (tidak langsung)nya di sebuah stasiun tv swasta bersama seorang sepupu yang hobi nontonnya sebelas dua belas dengan gw. Bedanya dia sudah pernah menonton film ini.

Jujur gw belum pernah menonton film fenomenal itu. Yang menurut pendapat cewe-cewe merupakan film yang wajib ditonton, salah seorang sahabat gw sih bilang gini "lo mesti nonton film ini, soalnya romantis..banget!", dan "Edwardnya ganteeeng bangeeettt tauuuu..". Sementara beberapa temen cowo gw film ini mengecewakan, karena katanya sosok yang digambarkan sebagai vampir nya kurang jahat lah, ceritanya ga masuk akal lah, dan sebagainya yang saya sendiri tidak mengerti karena belum pernah nonton. Ada keinginan gw untuk menonton fim ini. Tapi lantaran film nya sudah termasuk lama, gw jadi ragu mau membeli DvD bajakannya, takut dikatain ga update.

Dari seorang sahabat gw mendapatkan email forward-an (note:forward-an disini berarti email punyanya yang diforward kepada gw, hahah..padahal gw yakin kalian mengerti tanpa harus gw jelaskan, betapa ga pentingnya note ini) yang ditulis oleh seorang cowo, yang isinya kurang lebih menjelaskan ringkasan cerita dan alasan kenapa film itu menjadi film favorit teman-teman perempuannya. Sehingga gw sedikit mengerti jalan cerita film tersebut yang dikisahkannya seperti ini

"Bella Swan gadis remaja yang tertutup dan selalu merasa gak nyambung dengan teman-temannya. Lantaran nyokapnya harus keluar kota bersama suami barunya, Bella sementara waktu tinggal bersama bokapnya di kota Fork yang selalu mendung tanpa cahaya matahari. Hidupnya berubah pas ketemu ama Edward Cullen yang kemudian diketahui adalah seorang vampir! Bella dan Edward jatuh cinta dan bam! cinta 'terlarang' pun terjadi."

Sebagai film yang dianggap paling laku, film ini banyak dibahas ketika acara MTv movie award berlangsung. Beberapa adegannya bahkan diparodikan. Sepupu yang nonton bareng gw ketawa-tawa, dan ketika film dan aktornya ini disebut sebagai pemenang dalam beberapa kategorinya dia menjerit spontan "ya iyaaaalaaaahh..", atau "pastinyaaa..", dan juga "udah jelaslah". Lagi-lagi lantaran takut dikatain ga update, saat dia berkata seperti itu gw ikut-ikutan ngomong "iya yah, gak mungkin enggak!". Bahkan saat diumumkan film tersebut sebagai salah satu nominasi untuk kategori 'best kiss', gw menjerit duluan "pasti Twilight laaahhh..." yang kemudian diamini oleh sepupuku itu.

HAKS, padahal nonton pun gw belum pernah, dan sama sekali ga ada gambaran seperti apa adegan ciuman dalam film itu. LOL.
Reaksi itu membuat sepupu gw sangat percaya bahwa gw sudah pernah menonton film itu. Bahkan ketika gw sedang beranjak sebentar dan pindah ke ruangan lain, dia memanggilku sekencang-kencangnya dan berkata "liat deh, yang moonlight nya udah mau keluar, wuaaahhh..harus nonton nih!". Yang kemudian gw jawab dengan "iyaaaa.. iihh, ga sabar pengen liat edwardnya lagiii". Kataku dengan sangat sok tau.

Ckckck, untung saja dia percaya penuh, dan gw terhindar dari pertanyaan setengah mengejek "masa belum pernah nonton film Twilight????"

Minggu, 24 Mei 2009

Car Free Day @ jalan Dago, Bandung

Masih ingat dengan salah satu puisi dalam film "Ada Apa Dengan Cinta?"
Katanya begini..
Satu nafas terhembus adalah kata
Angan, debur, dan emosi tercampur
Dalam jubah terpautan, tangan kita terikat
Bibir kita menyatu
Maka setiap apa terucap
Adalah sabda pandita ratu..

Yang kemudian kini menimpaku.
Gw pernah menulis dalam salah satu milis, bahwa gw iri dengan event car free day di Ibukota sana. Kenapa itu tidak dijadikan event wajib untuk setiap kota besar di Indonesia termasuk kota kelahiran gw tercinta..Bandung!!
Dan akhirnya, seperti yang gw lihat dalam sebuah spanduk yang terpajang di jalan Jakarta, Bandung, bahwa pada tanggal 30 Mei 2009 nanti akan diadakan event tersebut (gw ulangi, CAR FREE DAY_red.) di sepanjang jalan Dago, Bandung.

Yippie..akhirnya..keinginan gw terkabul.

Akhirnya, setelah hampir setaun menanti datang juga event itu. Event yang gw harapkan bukan hanya sekali ini, tapi bisa jadi event bulanan bahkan mingguan. Yah, kenapa enggak?
kenapa mesti setaun sekali kalo bisa diadain lebih sering, bukankah justru turut membantu mengurangi polusi yang berdampak buruk terhadap banyak hal??

Apalagi karena meskipun event ini dijuduli Car Free Day, tapi slogannya masih seperti ini : "jalan kaki, naik sepeda, atau ngangkot yuk?"
Padahal 'ngangkot' atau jika menggunakan EYD disebut 'menggunakan angkot' toh masih termasuk mobil juga, jadi mungkin judul yang tepat bukan Car Free Day tapi..Private Car Free Day.. halah!!

Tapi, meskipun cuma dari jam 7 am sampai 11 am, atau apapun itu..gw masih memaklumi seenggaknya ada niatan baik dari Pemda dan organisasi2 kota Bandung, mengembalikan Bandung Berhiber yang minim polusi. Lagian, jalan dago tu kan secara angka panjangnya cukup panjang, um..bahasanya kurang tepat, panjangnya cukup luas, um..bukan, panjangnya cukup.. (yeah, you know what I mean).. agak merepotkan kalau ga boleh sama sekali ada angkutan bermotor.
(Eh, tapi tapi..sebenernya bisa diatasi dengan mengalihkan jalan angkot tersebut ke arah lain yang mendekati jalan Dago sih.. misalnya kalau mau ke RS Borromeus bisa berhenti di jalan DipatiUkur, atau Pager gunung, atau Ganesha, dan sekitarnya deh..)

Hmm, can't wait any longer..

Senin, 18 Mei 2009

(semoga) bukan plagiat !

Gw menulis karena gw pengen menulis, yang kalau ga menulis rasanya ga enak. Ntah sadar atau nggak pastinya tulisan gw terpengaruh sama tulisan yang gw baca. Terinspirasi mungkin, tapi (semoga) bukan plagiat.

Dan setiap plagiator otomatis gw anggap rendah.

Tapi, apa sih bedanya terinspirasi sama plagiat?

Yang jelas plagiat itu kalau nyaris sama persis. Kalau di dunia musik sih, beberapa (kalau ga salah 3) bar melodinya sama udah bisa dibilang plagiat. Tapi kalau dalam dunia tulis menulis?? um.. gw masih awam!

Omong-omong tentang plagiat di dalam dunia tulis menulis.. baru-baru ini gw nonton film based on novel karangan Dan Brown, 'Angel and Demon'. Jujur aja, gw belum pernah baca novelnya.. tapi pada 3/4 jalan cerita dalam film itu gw mengalami serangan deja vu.

Gw merasa pernah membaca sebuah novel yang beberapa kejadiannya nyaris sama dengan jalan cerita film itu. Pembunuhan dengan cara diberi racun, pencarian bom yang berlomba dengan waktu, dan bom yang pada akhirnya diledakkan di udara lewat sebuah helikopter yang kemudian penumpang helikopternya turun dengan parasut. Film-film yang menceritakan tentang pembunuhan dengan cara diberi racun kemudian pencarian bom yang berlomba dengan waktu memang sudah biasa. Tapi ketika 3 hal yang gw sebutkan tadi berada di satu cerita yang sama kok rasanya kebetulan sekali.

Hahahah.. yes J, it's yours !!

Maaf, tapi ini yang kepikiran waktu gw nonton, yang bikin gw tersenyum simpul.

Gw belum pernah baca novelnya, dan ada kemungkinan jalan cerita di film dan novel yang berbeda sehingga terjadilah kebetulan itu.

Jadi J, semoga ini bukan plagiarism.

Minggu, 12 April 2009

Charlie and the chocolate factory, judulnya.

Begitu judul film yang semalam gw tonton di televisi. Sebuah film lama yang sebenernya udah dari dulu kepengen gw tonton karena visualisasi karakter Willy Wonka begitu fantastik, diperankan dengan sangat apik oleh Jim carrey dan sangat berbeda dari film-filmnya yang lain sebut saja Ace Ventura, The Truman Show, dll. Yang ternyata jalan ceritanya jauh dari bayangan gw, tapi tidak membuat gw menyesal setelah menontonnya.
Sayangnya gw baru mulai menontonnya di setengah jam terakhirnya, karena nyokap gw sebagai penguasa remote tv di rumah bersiteguh ingin menonton episode terakhir dari sebuah sinetron (maaf) murahan yang isinya full menjual tangisan pemeran utamanya. Yang toh di akhir jam tayangnya jalan ceritanya masih menggantung pada sebuah permasalahan, dan tanpa label "TAMAT" maupun "BERSAMBUNG". Jadi setelah nyokap gw setengah mengomel karena gendok tidak mendapatkan happy ending sinetron tersebut, barulah gw pindahkan channelnya ke televisi yang menayangkan film yang gw bahas di atas.
Jalan cerita yang gw tangkap setelah menonton di pertengahan ceritanyanya kurang lebih mengenai kesukaan anak-anak akan kembang gula dan coklat, dan betapa pentingnya menjaga agar anak-anak kecil selalu mempuyai impian.
Bicara mengenai impian, um.. bukan, tepatnya kesukaan, gw jadi teringat kesukaan gw di masa kecil yang justru baru gw sadari sekarang ini.
Setiap kali gw mengisi data pribadi sewaktu mengisi profile di email slash friendster slash facebook, bahkan pada curriculum vitae tak pernah absen gw tulis 'membaca' dan 'menulis' pada kolom hobby. Lucu sekali, klise seperti hobby anak kecil yang baru masuk SD. Sementara waktu SD gw paling tidak pernah menulis itu dalam note (atau kami lebih sering menyebutnya diari) teman saat mengisi data pribadi. Padahal hobi membaca dan menulisku itu dimulai saat SD, tepatnya kelas satu SD saat aku sudah lancar membaca.
Awalnya saat TK bokap gw sering memancing gw mau belajar membaca dengan membelikan majalah BOBO. Kemudian saat SD gw dibelikan komik doraemon, buku saku enid blyton "Gadis kaya raya yang sombong", "Si Babi Ungu", dan beberapa buku lain yang entah apa judulnya dan entah dimana keberadaannya sekarang. Namun setelah lancar membaca justru kebiasaan membeli buku-buku cerita semacam itu berkurang, lagipula saat itu orang tua gw berada di posisi "kecukupan" yang tidak "berlebihan" sehingga tidak dapat membelikan semua buku yang gw minati. Untungnya kesukaan gw dalam membaca tidak berhenti sampai disitu, jadilah gw membaca buku cerita di tempat penjualannya. Gw dan nyokap memang sedari dulu rajin mendatangi sebuah toko buku besar di bilangan Jl. Merdeka Bandung. Sementara nyokap gw bertapa di sekitar rak buku-buku masakan, gw pergi ke atas sendiri dan membaca buku-buku tipis yang isinya mengenai cerita tradisioanl dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri. Yang paling gw ingat buku itu kebanyakan berisi cerita tradisional dari negeri sakura. Yang dalam sekali kunjungan aku bisa menghabiskan tiga atau empat buku dalam waktu yang singkat untuk kurang anak kecil.
Kebiasaan itu terus berlanjut sampai akhirnya gw hobi pinjam meminjam buku dengan teman. Bukan hanya itu saja, saking gw suka membaca biasanya cerita-cerita yang terdapat di dalam satu buku ajaran bahasa Indonesia untuk satu caturwulan gw habiskan hanya dalam waktu satu malam. Siangnya dibagikan guru malamnya semua cerita selesai gw baca (catatan: hanya cerpen-cerpennya saja, bukan pelajarannya, ups..).
Sedangkan kesukaan gw dalam menulis dimulai saat kelas 6 SD. Saat itu gw mulai menulis cerpen bukan karena ada tugas mengarang. Karena saat itu gw sedang hobi-hobinya membaca Ghoosebum (maaf, lupa bagaimana penulisannya, tapi kamu mengerti kan?!) maka tulisan pertama gw isi dan jalannya mirip penceritaan buku-buku itu.
Tulisan yang gw bikin mulai berubah sewaktu duduk di bangku SMP. Bacaan favoritku saat itu adalah cerpen-cerpen dalam majalah remaja dan novel karya Hilman a.k.a LUPUS. Jadilah sejak itu tulisan gw kental dengan unsur komedi.
Singkat cerita, tulisan gw berubah lagi sejak kenal novel Harry Potter jaman kelas 1 SMA; komik serial cantik dan misteri (Chie Watari fav gw untuk serial misteri), serta Salad Days jaman kelas 2 dan 3 SMA. Novel-novel tebal lainnya (selain Harry Potter) mulai gw jajah saat kuliah. Puncaknya gaya penulisan gw adalah saat menulis skripsi. Totally change. Dan seperti yang sudah kamu baca, beginilah hasil tulisan gw yang terakhir. Seperti inilah yang orang sebut "apa yang kamu tulis adalah apa yang kamu baca", dan gw mencoba melengkapinya dengan "apa yang gw tulis adalah apa yang gw lihat, gw dengar, dan gw baca".

Jumat, 20 Maret 2009

Arti Sahabat, bukan menyatut dari lagu Nidji.

Buat kamu, seberapa penting sih arti persahabatan?

Mau ga kamu nerima baik buruknya orang lain sebagai sahabat layaknya orang yang kamu sayangi?
Ketika dia melakukan kesalahan yang sama berulang kali, maukah kamu memaafkannya?
Ketika dia sedang mendapat kesusahan, pernahkan kamu berkata "apa yang bisa saya bantu?"
Sudahkah kamu cukup memberi bahu dan telinga saja ketika dia curhat?

Bagaimana jika alasan selama ini dia bersahabat dengan kamu karena dia merasa lebih di atas angin daripada kamu dan merasa nyaman karenanya, bisakah kamu memaafkannya?

apakah dengan kamu memaafkan juga berarti kamu akan melupakan kesalahannya?

Karena buat gw, memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang berbeda.

apa hubungannya??

ini berawal dari perbincangan sederhana antara gw dan rekan kerja. sebenernya adakah hubungan antara nenek-nenek tua berikut ini, mak uneh, mak erot, dan mak ecot???

Interpretation

Apa adil hanya dalam satu jam kamu menilai seseorang di hadapanmu hanya berdasarkan apa-apa yang ia bicarakan?

Dalam meeting bersama owner kemarin, gw melihat contoh nyata bahwa
"semua orang hanya melihat apa yang ingin dia lihat"
Sosok owner itu cukup berkharisma, tapi bahasan, komentar, kritikan, bahkan permasalahan ditanggapinya sebagai celah untuk berbisnis. Yah namanya juga pemilik perusahaan, otaknya penuh dengan cara-cara mendapatkan keuntungan.

Tapi gw sendiri cukup salut, mungkin itu sebagai salah satu bentuk dari profesionalitas dan totalitas dia dalam berbisnis. Meminjam istilah dari dosen gw sewaktu kuliah dulu bahwa si owner itu adalah profesor ular.

Seorang profesor ular, dalam hal apapun ujung-ujungnya akan dikait-kaitkan dengan ular. Karena bahasan ular sudah menjadi darah dagingnya.

Hal-hal yang ia bicarakan menjadi dasar bagi gw dalam menarik simpulan. Benar-benar interpretasi itu adalah melihat apa yang ingin dilihat.

Rabu, 11 Maret 2009

sekalilagi - ini faktanya!

Kejadian bertemu dengan 2 musisi cilik itu masih terasa hangat, dan semakin hangat ketika gw kembali bertemu dengan mereka.

Kali ini mereka menyanyikan lagu lain, sebuah lagu berirama sunda jadul yang sebenernya gw sendiri ga ngerti apalagi tau itu lagu apa. Masalah lagu apa bukan menjadi masalah, karena -sekali lagi- mereka membawakannya dengan sangat merdu. Bahkan menurut gw, tanpa fals. Tidak heran kalau akhirnya, 4 dari 5 penumpang di angkot itu memberikan penghargaannya berupa saweran. Bahkan seorang di antaranya memberikan selembar uang kertas (Kamu tau kan, hari gini uang kertas mempunyai paling tidak 3 angka nol). Bagi gw itu jelas merupakan bentuk penghargaan atas kemampuan mereka, bukan sekedar karena rasa kasihan.

Kemudian pendapatku itu terbukti di persimpangan berikutnya. Di hadapan (angkot) kami muncul lagi 2 orang anak kecil lain yang mengamen. Tidak tau lagu apa yang mereka nyanyikan karena suara yang sengau, dan mereka menyanyi dengan (sumpah) asal-asalan membuat gw berpikir ulang untuk memberi saweran pada mereka. Hampir 2 menit mereka bernyanyi ketika lampu merah akan berubah warna ke hijau.
Dan tebak, berapa orang yang memberi mereka uang?

Tidak satu orang pun.

Ironis? tidak.

Sama-sama 2 orang anak kecil, sama-sama pake 1 gitar dan yang lainnya menyanyi, sama-sama mengamen di angkot yang aku tumpangi. Kalau pada akhirnya 2 orang yang anak kecil yang pertama mampir mendapat saweran lebih banyak, itu bukan karena mereka di giliran pertama.

ini sangat fair, kan??!

Selasa, 24 Februari 2009

Dangerously in Love

Tidak perlu menyangkutpautkan apa yang gw tulis berikut dengan bulan Februari, dimana terdapat hari valentine. Tapi semata karena (untuk pertama kali_red.) gw ingin membahas sesuatu dalam love life gw dalam blog ini.

Katanya cewe adalah makhluk yang sensitif dan perasa. Maka biasanya cewe mudah menangkap perasaan orang lain. Tapi sayangnya, perasa dan kegeeran itu beda tipis. (Walaupun ini mungkin hanya perasaan gw sendiri) Gw ngerasa bukan tipe cewe yang gampang geeran. Kalo kali ini gw mendadak ngerasa kegeeran, entah gw harus menyalahkan siapa.

Gw juga tidak puitis, jadi gw akan mengatakan ini dengan sangat jelas, biar semua bisa mengerti.

Untuk kamu, di luar sana
Yang merasa kehidupan, hati, dan pikirannya terganggu karena kehadiran gw..
Kamu juga, pada akhirnya mengganggu kehidupan, hati, dan pikiran gw
Tolong, tunjukin bukti bahwa gw sedang tidak kegeeran.
Lewat sebuah email, yang gw tunggu, nanti, di hari ulang taun gw.

Kamu pasti tau, kamu yang gw maksud !!
(Sedikit mengutip dari "Never Been Kissed")

Kamis, 12 Februari 2009

Practice makes perfect ?!!

yups, betul banget.komentar ini yang pertama kali keluar di benak gw setelah selesai membaca blog teman dari teman gw.teman gw dan temannya itu memang sama-sama suka menulis dan membaca (um, rasanya seperti kata-kata yang ditulis anak kecil ketika menuliskan hobinya). blog mereka berdua sangat.. rapi!

Kenapa gw bilang rapi? karena tata bahasa mereka sangat teratur, sepertinya mereka betul-betul memahami EYD Bhs. Indonesia. Dan yang pasti, faktor lain dari kerapian tulisan mereka adalah kebiasaan mereka untuk menulis. Mungkin, mereka menjadikan menulis dengan kerapian yang sungguh-sungguh itu sebagai kebiasaan. Tidak seperti gw yang hanya asal menulis.
Iya gw suka menulis, tetapi lebih karena emosional semata. Menulis karena tidak sanggup mengeluarkan apa yang sedang dipikirkan menjadi sebuah untaian cerita verbal. Jadilah pikiran itu tertuang dalam sebuah tulisan yang amburadul, sama amburadulnya dengan jalan pikiran gw.

(kalau lo pernah liat iklan di TV, yang mengatakan bahwa jalan pikirannya wanita itu suka loncat-loncat, itu memang kenyataan!)

Jalan pikiran yang acak-acakan ditambah pemalesan belajar untuk bisa menulis lebih baik dan ditambah lagi dengan waktu yang cukup panjang (dan beruntun) dalam menulis untuk keperluan kuliah (yang harus sangat memperhatikan kaidah EYD, sebut saja laporan praktek kerja, laporan KKN, dan skripsi) membuat gw semakin tersesat dalam gaya penulisan yang aneh dan tidak teratur. Kadang formal tapi lebih sering enggak. Dan, beginilah hasilnya.

Kebetulan gw pernah bertemu dengan teman dari teman gw itu. Hebatnya, teman dari teman gw itu berbicara dengan tata bahasa yang teratur, enggak heran kalau tulisannya pun seteratur kata-katanya. Sampai-sampai gw bisa membayangkan bagaimana bila ia menceritakan sendiri apa yang ditulis di blognya.

Salute buat mereka berdua. Jika salah satu dari mereka menulis sebuah buku/novel sepertinya gw tidak akan melewatkan tulisannya.

Selasa, 13 Januari 2009

Bandung Banget !!

ini nih kenapa Bandung sangat potensial meregenerasi musisi-musisi Indonesia

Baru-baru ini, di suatu perempatan di Bandung,tersebutlah 2 orang anak kecil yang mengamen di angkot yang gw tumpangi (maaf, gw tidur watu pelajaran EYD Bhs.Indonesia di SD) gw pikir, karena mereka masih kecil, kisaran 7-9 taun, ga jauh deh..paling bakal bawain lagunya peterpan/d'masiv/St 12/seventeen.. yah, yang standar lah!
ternyata tebakan gw salah total! yang satu pegang gitar, yang satunya lagi pegang kendang, dan mereka bawain lagu secara medley.. gw lupa lagu apa, yang pasti bukan lagu orang dewasa! dan yang lebih bikin kagum karena lagu-lagu itu mereka aransemen ulang, lirik dan melodinya sekaligus, yang paling gw ingat, bahkan tidak bisa gw lupakan adalah lagu terakhir yang mereka bawain, belalang kupu-kupu.pasti kalian juga inget lirik terakhirnya,

"siang makan nasi kalo malem minum susu"

dan mereka menambahkan beberapa kata di belakangnya, yang di ujungnya kira-kira seperti ini..

"susunya buat adek bayi, susu nenek..."

musiknya berhenti, gw penasaran dengan lirik yang nanggung itu.
satu lengan terulur ke dalam angkor meminta saweran, sambil meneruskan lagunya

"buat pak supir saja..." haha.. mereka tertawa
gw sendiri nyengir menahan tawa, gw perhatiin ke sekeliling, ga ada yang ktawa.. loh?

wuah, pada ga sensitif nih dengan kekreatifan musisi cilik Bandung..

Horton hears a Who!

itu judul film yang baru gw tonton. Um, bukan film baru, tapi ga rugi juga nonton film itu. palagi karna yang ngisi suaranya Jim Carrey

ceritanya sih tentang seekor gajah yang bisa berhubungan sama seekor makhluk yang tinggal di dunia dalam setitik debu pada ujung sebatang bunga. gw harap, kata-kata ini bisa dimengerti.

seperti biasa, kejadian-kejadian dalam sebuah film menginspirasi gw untuk menulis ini. kenapa? karena gw pikir, sepertinya gw dalam kondisi yang sama.
salute deh buat yang bikin film itu. Dia berasil buat analogi yang sama dengan kehidupan kita yang sebenernya.
gw kan cuma makhluk kecil dalam dunia yang besar. Tapi dunia sebesar ini mungkin cuma setitik debu di jagad raya. yang keberlangsungannya tergantung oleh 'sesuatu'.

kalo di film, setitik debu itu tertiup angin dan terjatuh-jatuh terasa sebagai gempa untuk penghuni Who-ville (nama dunia dalam setitik debu itu). Entah kekuatan apa yang bisa bikin dunia kita ini tergoncang-goncang, mungkin bukan hanya gempa.. tapi kiamat?!

Hiiii, sereeemm..
oia, mau tau yang lebih serem?? pernah denger gosip yang katanya dunia bakal kiamat di taun 2012??