Film yang disutradari oleh James Cameron ini memang layak dapet acungan jempol. Sangat imajinatif. Banyak penggambaran yang terlihat memukau. Pulau-pulau yang dibuat melayang, binatang-binatang yang terlihat sungguhan hidup, sampai tanaman-tanaman yang glow in the dark. Kelebihan lainnya ada di jalan cerita.
Sebelum nonton film ini gw sempet baca status seorang temen gw di facebook, katanya "Avatar bagus banget, STOP penebangan pohon-pohon!! Aku benci mereka yang suka nebangin pohon-pohon!!" begitu kira-kira. Tapi bukan, film ini bukan propaganda untuk mereka para penebang liar. Ya, dalam film ini memang ada bagian yang menceritakan oknum yang menebang pohon besar bahkan keramat untuk maksud tertentu. Tapi menurut interpretasi gw bukan itu maksud utamanya. Yang gw tangkep maksud dari film itu untuk berhenti mengeksploitasi sumber daya alam dari bumi ini hanya demi kepentingan materi dan mengabaikan keseimbangan alam. Yah, karena 'alam bisa murka'. Gw sangat percaya alam punya cara sendiri untuk menyeimbangkan dirinya. Ketika dirinya dirusak secara sengaja atau tidak, maka ia bisa saja balik membalas. Bukan membalas karena dendam, tapi untuk kembali menyeimbangkan dirinya.
Itu yang ditunjukkan dalam film ini. Ketika suku Omaticaya tidak sanggup menghalau oknum yang ingin mengeksploitasi, maka alam yang berbicara melalui makhluk-makhluk yang tinggal di dalamnya.
Thumbs up untuk inti ceritanya.
Walaupun begitu, ada juga kelemahan dari sisi ceritanya. Yaitu ketika diceritakan Mo'at sang pemimpin suku Na'vi sudah tidak dapat menyelamatkan nyawa Grace karena Jake Sully terlambat membawanya. Tapi di schene berikutnya diceritakan Grace (seperti) hidup kembali, ia menggertak pihak militer untuk berhenti menyerang bangsa Omaticaya.
Entah karena gw yang bolot jadi nggak ngerti apa maksud schene sebelumnya atau memang ada keanehan di jalan ceritanya.
Atau mungkin keanehan jalan cerita ini ada sangkut pautnya dengan peristiwa cacatnya rol film ini di bioskop tempat gw nonton.
Film berhenti di tengah-tengah memang sudah biasa. Tapi berhenti berkali-kali rasanya cukup aneh dan menyebalkan.
Untuk bioskop sekelas XXI (dimana penonton diminta membayar lebih mahal daripada biskop 21, terutama di hari libur), kecelakaan seperti ini seharusnya tidak terjadi. Ya, mungkin gw yang kurang beruntung dan salah memilih tempat. Pertama kali film itu berhenti mendadak semua penonton otomatis menyoraki, kemudian ketika film dilanjutkan ceritanya lompat seperti ada bagian yang hilang, lalu berhenti mendadak lagi, selanjutnya film di-rewind dari bagian yang sudah diputar, film diberhentikan lagi untuk kemudian diputar ulang di 'titik pause'.
Phew. Sangat mengecewakan. Bahkan beberapa penonton 'pundung' dan melakukan walk out ketika film mati untuk kedua kalinya.Mungkin karena rol filmnya cacat jadi ada bagian film yang hilang,
Mungkin juga memang cerita film ini nggak gw mengerti,
Atau mungkin memang jalan ceritanya aneh.
Kalau dinilai seperti bentuk Kartu Hasil Studi:
A for Avatar.
C for Cinema.



